AUDENSI
PEMEKARAN: Sebelumnya DPRD Kabupaten Ketapang melakukan audiensi dengan
Tim Presidium Pembentukan Kebupaten Persiapan Hulu Aik, kemarin (10/1)
anggota DPRD juga didatangi Tim Pemekaran Kabupaten Sandai. ASHRI
ISNAINI/PONTIANAK POST
KETAPANG – Setelah beberapa waktu lalu melakukan audiensi dengan Tim
Pemekaran Presidium Pembentukan Kebupaten Persiapan Hulu Aik, kemarin
(10/1), DPRD Kabupaten Ketapang juga didatangi Tim Pembentukan Kabupaten
Sandai. Sebagaimana diketahui, kedua tim pemekaran ini ternyata
sama-sama memperjuangkan kecamatan-kecamatan yang sama di daerah hulu
Ketapang, untuk bergabung menjadi kabupaten baru.
Namun terungkap bahwa dalam audiensi sebelumnya, Presidium Pembentukan
Kebupaten Persiapan Hulu Aik, hanya merangkul kecamatan-kecamatan
seperti Simpang Hulu, Simpang Dua, Laur, Sandai, dan Ulu Sungai untuk
bergabung dalam sebuah kabupaten baru bernama Hulu Aik. Sementara Tim
Pembentukan Kabupaten Sandai yang sebelumnya telah terbentuk, mengajukan
enam kecamatan untuk dimekarkan, yakni lima kecamatan tersebut bersama
Nanga Tayap. “Beberapa anggota tim Presidium Pembentukan Kebupaten
Persiapan Hulu Aik, itu semula juga merupakan bagian dari anggota tim
kami,” ungkap Ketua Umum Panitia Pembentukan Kabupaten Sandai,
Suryadharma, kepada sejumlah wartawan, kemarin (10/1).
Suryadharma menceritakan bahwa sebelumnya pada 2001, mereka telah
membentuk Tim Pembentukan Kabupaten Sandai. Namuan karena tim tersebut
masih lemah, pada November 2006, mereka melakukan penyempurnaan tim.
Alhasil, kala itu pihaknya mendapat respon positif dari Pemda dan DPRD
Ketapang. “Kala itu Pemda mengeluarkan anggaran sekitar Rp762 jutaan,
untuk mendukung persiapan pemekaran dua kabupaten, yaitu Kabupaten
Kayong Utara dan Kabupaten Sandai,” paparnya.
Namuan dalam perjalanannya hanya Kayong Utara yang berhasil dibentuk,
sedangkan perjuangan Tim Pemekaran Kabupaten Sandai terkesan diabaikan.
“Bahkan kala itu kami juga tidak mendapat hasil kajian tentang proses
pemekaran kabupaten yang kami perjuangkan,” keluhnya. Selang beberapa
tahun vakum, kemudian pada 2010, dijelaskan dia mengenai lahirnya Tim
Presidium Pembentukan Kebupaten Persiapan Hulu Aik, yang juga
memperjuangkan wilayah geografis serupa dengan wilayah yang mereka
perjuangkan. “Belakangan kami mendengar Pemda akan menyiapkan anggaran
yang tidak kecil untuk pemekaran kabupaten baru ini. Yang kami
pertanyakan, kenapa perjuangan kami dalam membetuk kabupaten baru
sebelumnya tidak mendapat perhatian yang sama? padahal wilayah yang
diperjuangkan untuk memekarkan kebupaten baru itu hampir sama,” katanya.
Karena itulah, Suryadharma menginginkan adanya pertemuan pihaknya dengan
dengan Tim Pemekaran Presidium Pembentukan Kebupaten Persiapan Hulu
Aik, untuk menyatukan persepsi membentuk kabupaten baru tersebut. “Kami
siap untuk bersatu denga tim pemekaran yang baru ini. Apapun nama
kabupatennya, kami siap. Namun untuk wiayah ibukota kabupaten, kami
harap itu letaknya di Sandai,” tegasnya. Alasan mereka memilih Sandai
sebagai ibukota kabupaten karena dinilai lebih siap, serta memiliki
sarana dan prasarana lebih lengkap dibanding daerah lain.
Menanggapi permasalahan tersebut, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ketapang
Jamhuri amir mengatakan bahwa dalam pembentukan panitia pemekaran
kabupaten baru di Ketapang, telah terjadi dualisme panitia pemekaran.
“Yang satu mengaku Panitia Presidium Pembentukan Kebupaten Persiapan
Hulu Aik, dan satu lagi mengaku Panitia Pembentukan Kabupaten Sandai,
namun sebagian besar orang-orang di dalam kepanitiaan itu adalah orang
yang sama, dan memperjuangakna wilayah yang hampir sama untuk
dimekarkan,” paparnya.
Karena itu, agar permasalah tersebut segera terselesaikan, Jamhuri
menginginkan agar dengan difasilitasi DPRD dan Pemda Ketapang, kedua tim
pemekaran ini dapat duduk satu meja, untuk kemudian menyatukan persepsi
menjadi satu tim dalam membentu kabupaten baru. “Kalau bisa, dalam waku
dekat kedua tim pemekaran ini bisa saling bertemu dan menyatukan
persepsi,” katanya. Jamhuri menegaskan bahwa untuk memekarkan kabupaten
baru tersebut, pihak eksekutif maupun legislatif sangat mendukung dan
telah menyiapkan anggaran sekitar Rp1 miliar, untuk mendukung biaya
pemekaran. “Sebelum adanya persamaan persepsi antara kedaua tim ini,
maka anggaran tersebut tidak akan kami keluarkan,” imbuhnya.
Adanya dualisme panitia pemekaran kabupaten baru tersebut ternyata tidak
begitu dipersoalkan Sekda Ketapang Andi Djamiruddin. “Masalah ini bisa
diselesaikan, asalkan kedua belah pihak tim pemekaran mau duduk satu
meja, menyamakan persepsi untuk membentuk tim pemekaran kabupaten baru,”
kata Sekda. Dia berharap agar secepat mungkin pertemuan kedua tim
pemekaran tersebut dapat dilaksankan. (ash)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar